Hakikat pembelajaran


   A.    Hakikat pembelajaran
1.      Pengertian pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan , penguasaan kemahiran dan tabiat , serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda (Amar 2012)
Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang  Sistem Pendidikan  Nasional  pasal 1 ayat 20 dinyatakan bahwa Pembelajaran adalah Proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber  belajar pada suatu lingkungan belajar.
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsusr-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran (Hamalik, 1994).
Dari pendapat para ahli diatas dapat saya simpulkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi yang dilakukan oleh pendidik dan para peserta didik dan menggunakan sumber belajar yang telah ditentukan.
2.      Komponen pembelajaran
Menurut Sumiati dan Asra (dalam Ahmad 2012) mengelompokkan komponen komponen pembelajaran dalam tiga kategori utama, yaitu: guru, isi atau materi pembelajaran, dan siswa. Interaksi antara tiga komponen utama melibatkan metode pembelajaran, media pembelajaran, dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta situasi pembelajaran yang memungkinkan terciptanya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
a.    Tujuan Pembelajaran
Menurut H. Daryanto (dalam Ahmad 2012) tujuan pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur.
b.    Materi Pembelajaran
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, dkk (dalam Ahmad 2012) menerangkan bahwa materi pembelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa materi pembelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan.
c.    Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang ditetapkan guru memungkinkan siswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar produk. Penggunaan metode pembelajaran oleh guru memunkinkan siswa untuk mencapai tujuan belajar baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Agar metode pembelajaran yang digunakan oleh guru cepat, guru harus memperhatikan beberapa faktor, yaitu tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber dan fasilitas, situasi kondisi dan waktu.
d.   Media Pembelajaran
Menurut Rudi Susilana dan Cepi Riyana (2009) mengklasifikasikan penggunaan media berdasarkan tempat penggunaannya, yaitu:
Penggunaan media kelas
Penggunaan media diluar kelas
e.    Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran merupakan penilaian terhadap kemajuan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran. Dengan adanya evaluasi pembelajaran keberhasilan pembelajaran diketahui hasilnya. Evaluasi pembelajaran harus disusun dengan tepat. 
f.     Peserta didik/ Siswa
Siswa merupakan komponen inti dari pembelajaran, maka dari itu siswa harus disiplin belajar yang tinggi.
g.    Pendidik/ Guru
Guru merupakan komponen utama yang sangat penting dalam proses pembelajaran karena tugas guru bukan hanya sebagai fasilitator namun ada dua tugas. Kedua tugas itu adalah sebagai pengelola pembelajaran dan sebagai pengelola kelas.
h.    Lingkungan tempat belajar
Lingkungan yang ditata dengan baik akan menciptakan kesan positif dalam diri siswa, sehingga siswa menjadi lebih senang untuk belajar dan lebih nyaman dalam belajar.
    B.     Model desain pembelajaran
Model adalah sebuah gambaran mental yang membantu kita untuk menjelaskan sesuatu dengan lebih jelas terhadap sesuatu yang tidak dapat dilihat atau tidak dialami secara langsung (Dorin, Demmin, dan Gabel, 1990) dalam (Aji, 2016:120)
Gagne (1992) menjelaskan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar siswa, dimana proses itu memiliki tahapan segera dan tahapan jangka panjang.
Menurut Gagne, belajar seseorang dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yg berkaitan dengan kondisi yang dibawa atau datang dari dalam individu siswa, seperti kemampuan dasar, gaya belajar seseorang, minat dan bakat serta kesiapan setiap individu yang belajar. Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yakni berkaitan dengan penyediaan kondisi atau lingkungan yang didesain agar siswa belajar. Desain pembelajaran berkaitan dengan faktor eksternal ini, yakni pengaturan lingkungan dan kondisi yg memungkinkan siswa dapat belajar. 
Berbagai model dapat dikembangkan dalam mengorganisasi pengajaran. Satu di antaranya adalah model pembelajran Dick and Carrey (1985) dalam (Aji, 2016:121) Adapun langkah-langkah pembelajarannya mencakup (1) mengidentifkasi tujuan umum pembelajaran, (2) melaksanakan analisis pengajaran, (3) mengidentifkasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa, (4) merumuskan tujuan performansi, (5) mengembangkan butirbutir tes acuan patokan, (6) mengembangkan strategi pengajaran, (7) mengembangkan dan memilih material pengajaran, (8) mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif, (9) merevisi bahan pembelajaran, (10) mendesain dan melakukan evaluasi sumatif.
Penggunaan model Dick and Carrey (Aji, 2016:121) pengembangan suatu mata pelajaran dimaksudkan agar: (a) pada awal proses pembelajaran, anak didik atau siswa dapat mengetahui dan mampu melakukan halhal yang berkaitan dengan materi pada akhir pembelajaran, (b) adanya pertautan antara tiap komponen, khususnya strategi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang dikehendaki, (c) menerapkan langkah-langah yang perlu dilakukan dalam melakukan perencanaan desain pembelajaran.
Harbert Simon (Dick dan Carey, 2006) dalam (Sanjaya 2013:65) mengartikan desain sebagai proses pemecahan masalah.tujuan sebuah desain adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yang tersedia. Dengan demikian, sutu desain muncul karena kebutuhan manusia untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi. Dengan demikian suatu desain pada dasarnya adalah suatu proses yang bersifat linear yang diawali dari penentuan kebutuhan.
Desain instruksional berkenaan dengan proses pembelajaran yg dapat dilakukan siswa untuk mempelajari suatu materi pelajaran yg di dalamnya mencakup rumusan tujuan yg harus dicapai atau hasil belajar yg diharapkan, rumusan strategi yg dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan termasuk metode, teknik dan media yg dapat dimanfaatkan serta teknik evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan pencapaian tujuan. Mendesain pembelajaran harus diawali dengan studi kebutuhan, karena berkenaan dengan upaya untuk memecahkan persoalan yg berkaitan dengan proses pembelajaran siswa dalam mempelajari suatu bahan atau materi pembelajaran.
Dari pendapat diatas dapat saya simpulkan bahwa desain pembelajaran adalah susunan pembelajaran yang dibuat untuk membantu proses pembelajaran dalam memecahkan suatu masalah.
1)      Kriteria desain instruksional
Desain instruksional yg baik harus memiliki beberapa kriteria diantaranya:
a.         Berorientasi pada siswa
Ketika kita mendesain pembelajaran, maka pertanyaan pertama yg harus kita ajukan adalah bagaimana desain yg kita kembangkan itu mampu membantu siswa dalam mempelajari bahan pembelajara dan memudahkan siswa belajar. Beberapa hal yg perlu dipahami tentang siswa diantaranya:
1.      Kemampuan dasar. Pemahaman kemampuan dasar yg dimiliki siswa perlu dipahami untuk menentukan dari mana sebaiknya kita mulai mendesain pembelajaran. Dalam menentukan tujuan pembelajaran yg harus dicapai selamanya disesuaikan dengan kemampuan yg telah atau harus dimiliki terlebih dahulu oleh setiap siswa. Sehingga desain pembelajaran dirancang sesuai dengan potensi dan kompetensi yang telah dimiliki oleh siswa. Dengan kata lain desain tidak dirancang semata-mata oleh kemauan guru saja.
2.      Gaya belajar. Gaya belajar ada 3 tipe, yakni tipe auditif, tipe visual, dan tipe kinestetis. Siswa yg bertipe auditif akan dapat menangkap informasi lebih banyak melalui pendengaran. Dengan demikian maka desain pembelajaran dirancang agar siswa banyak mendengar melalui berbagai media yang dapat di dengar seperti radio, recorder, video dll.
b.      Berpijak pada pendekatan sistem
Melalui pendekatan sistem bukan saja dapat diprediksi keberhasilannya, akan tetapi juga akan terhindar dari ketidakpastian. Hal ini disebabkan karena melalui pendekatan sistem dari awal sudah diantisipasi berbagai kendala yg mungkin dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan. Atas dasar itulah maka pendekatan sistem dalam desain instruksional merupakan pendekatan ideal yg dapat dilakukan oleh para desainer pembelajaran.
c.       Teruji secara empiris
Sebelum digunakan, sebuah desain instruksional harus teruji dahulu efektivitas dan efisiensinya secara empiris. Melalui pengujian secara empiris dapat dilihat berbagai kelemahan dan berbagai kendala yg mungkin muncul sehingga jauh sebelumnya dapat diantisipasi. Selain itu melalui pengkajian secara ilmiah dapat meyakinkan para pengembang pembelajaran untuk menggunakannya.
2)      Hubungan perencanaan dan desain pembelajaran
Perencanaan merupakan kegiatan menerjemahkan kurikulum sekolah ke dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Perencanaan pembelajaran dapat berupa perencanaan perhari, perminggu, persemester, pertahun sesuai dengan tujuan kurikulum yg hendak dicapai.
Perencanaan lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu kurikulum sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa. Dengan demikian, pertimbangan dalam menyusun dan mengembangkan sebuah perencanaan pembelajaran adalah kurikulum yang berlaku di suatu lembaga. Sedangkan, pertimbangan dalam menyusun dan mengembangkan suatu desain pembelajaran adalah siswa itu sendiri sebagai individu yang akan belajar dan mempelajari bahan pelajaran. Artinya ketika kita akan menyusun dan mengembangkan sebuah perencanaan pembelajaran, maka kita perlu bertanya terlebih dahulu bagaimana desain kurikulum yang ada di lembaga pendidikan. Sedangkan, kalau kita menyusun dan mengembangkan sebuah desain pembelajaran kita perlu bertanya bagaimana agar siswa dapat mempelajari suatu bahan pelajaran dengan mudah.
    C.    MODEL-MODEL Desain Instruksional
Beberapa model desain yang dikembangkan oleh para ahli:
1.      Model Kemp
Model desain sistem instruksional yg dikembangkan oleh Kemp merupakan model yg membentuk siklus. Menurut Kemp, pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas komponen2 yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujaun dan berbagai kendala ygn timbul. Mengembangkan sistem instruksional, menurut Kemp dari mana saja bisa, asalkan urutan komponen tidak diubah dan setiap komponen itu memerlukan revisi untuk mencapai hasil yg maksimal.  Komponen-komponen dalam suatu desain intrusional menurut Kemp adalah:
a.        hasil yang ingin dicapai
b.        analisis tes mata pelajaran
c.        tujuan khusus belajar
d.       aktivitas belajar
e.        sumber belajar
f.         layanan pendukung
g.        evaluasi belajar
h.        tes awal
i.          karakteristik belajar
Kesembilan konponen itu merupakan suatu silkus yang terus menerus direvisi setelah dievaluasi baik evaluasi sumatife maupun formatifedan diarahkan untuk menentukan kebutuhan siswa, tujuan yang ingin dicapai, prioritas dan berbagai kendala yang muncul.

2.      Model Banathy


Model desain pembelajaran dari Benathy berbeda dengan model kemp. Model ini memandang bahwa penyusunan sistem intrusksioanl dilakukan melalui tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahap dalam mendesain suatu program pembelajaran yakni:
a.    menganalisis dan merumuskan tujuan baik tujuanpengenebangan sistem maupun tujuan spesifik. Tujuan merupakan sasan dan rah yang harus dicapai oleh siswa.
b.    merumuskan kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.  Item tes dalam tahap ini dirumuskan untuk menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan tes dapat meyakinkan kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilannya.
c.    Menganalisis dan merumuskan kegitan pembelajaran yakni kegiatan yang menginventarisasi seluruh kegiatan belajar mengajar.
3.      Model Dick and Cery
Menurut model ini sebelum desainer merumuskan tujuan khusus yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan kemampuan awal siswa terlebih dahulu. Manakala telah dirumuskan tes dalam bentuk Criterion Reference Test, artinya tes yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan khusus selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran, yakni skenario pelaksanaan pembelajaran yang diharapkan dapat mencapai tujuan secara optimal, setelah itu dikembangkan bahan-bahan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Langkah terakhir dari desain ini adalah melakukan evaluasi, yakni evaluasi formatife dan evaluasi sumative.
Evaluasi formatife berfungsi untuk menilai efektivitas program dan evaluasi sumatife berugnsi untuk menentukan kedudukan setiap siswa dalam penguasaan materi pelajaran. Berdasarkan hasil evaluasi inilah selanjutnya dilakukan umpan balik dalam merevisi program pembelajaran.
4.      Model PSSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
Model PSSI adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PSSI berfungsi untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
PSSI terdiri dari 5 tahap, yakni:
a.    Merumuskan tujaun, yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam perumusan tujuan ini yakni harus operasional, artinya tujuan yang dirumuskan harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar, berbentuk perubahan tingkah laku dan dalam setiap rumusan tujuan hanya satu bentuk tingkah laku.
b.    Mengembangkan alat evaluasi, yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk masing-masing tujuan. Alat evaluasi disimpan pada tahap 2 setelah rumusan tujuan untuk meyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
c.    Mengembangkan kegiatan belajar mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh.
d.   Mengembangkan program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode dan memilih alat dan sumber pelajaran.
e.    Pelaksanaan program, yaitu kegiatan mengadakan prates, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan psikotes dan melakukan perbaikan.
    D. Analisis Kebutuhan
1.         Pengertian kebutuhan
Menurut M. Atwi Suparman dalam Abidin (2007 : 61) kebutuhan adalah kesenjangan antara keadaan sekarang dengan yang seharusnya dalam redaksi yang berbeda tapi sama.
Dalam penjelasan buku milik Wina Sanjaya (2015) dipaparkan beberapa pendapat ahli mengenai pengertian Analisis Kebutuhan (Need Assesment) seperti menurut John McNeil (1985) mendefisinikan need assessment sebagai “the process by which one defines educational needs and decides what their priorities are”. Jadi menurut McNeil, assessment itu adalah proses menentukan prioritas kebutuhan pendidikan.
Sejalan dengan pendapat McNeil, seels dan Glasgow (1990) menjelaskan tentang pengertian need assessment: “it means a plan for gathering information about discrepancies and for using that information to make decisions abaout priorities”. Kebutuhan itu pada dasarnya adalah kesenjangan (discrepancies) antara apa yang telah tersedia dengan apa yang diharapkan dan need assessment adalah proses mengumpulkan informasi tentang kesenjangan dan menentukan prioritas dan kesenjangan untuk dipecahkan.
Analisis kebutuhan merupakan aktivitas ilmiah untuk mengidentifikasi factor-faktor pendukung dan penghambat proses pembelajaran guna memilih dan menentukan media yang tepat  dan relevan mencapai tujuan pembelajaran dan mengarah pada peningkatan mutu pendidikan.
Menurut Anderson analisis kebutuhan (need Assesment) diartikan sebagai suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas.
Ada beberapa hal yang melekat pada pengertian need assessment, seperti yang dikemukakan baik oleh McNeil maupun oleh Glasgow:
1)      Pertama, need assessment merupakan suatu proses artinya ada rangkaian kegiatan dalam pelaksanaan need assessment. Need assessment bukanlah suatu hasil, akan tetapi suatu aktivitas tertentu dalam upaya mengambil keputusan tertentu.
2)      Kedua, kebutuhan itu sendiri pada hakikatnya adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Dengan demikian maka, need assessment itu adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang kesenjangan yang seharusnya dimiliki setiap siswa dengan apa yang telah dimiliki.
Dari beberapa pendapat diatas dapat saya tarik kesimpulan bahwa analisis kebutuhan adalah segala sesuatu yang dilakukan yaitu memperhatikan setiap kebutuhan-kebutuhan yang akan dipakai dalam pembelajaran agar harapan dan kenyataan tercapai.
2.         Fungsi analisis kebutuhan
Morrison menjelaskan beberapa fungsi analisis kebutuhan (Need Assessment) sebagai berikut:
a.       Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
b.      Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan
c.       Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.
d.      Memberikan data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran.
Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan  analisa kebutuhan (Morrison dalam Abidin, 2007: 62).
a.       Kebutuhan Normatif, Membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misal, Ebtanas, UMPTN, dan sebagainya.
b.      Kebutuhan Komperatif, membandingkan peserta didik pada satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel. Misal, hasil Ebtanas SLTP A dengan SLTP B.
c.        Kebutuhan yang dirasakan, yaitu hasrat atau keinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukan kesenjangan antara tingkat ketrampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik untuk mengidentifikasi kebutuhan ini dengan cara interview.
d.       Kebutuhan yang diekspresikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan. Misal, siswa yang mendaftar sebuah kursus.
e.        Kebutuhan Masa Depan, Yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi di masa mendatang. Misal, penerapan teknik pembelajaran yang baru, dan sebagainya.
f.        Kebutuhan Insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul di luar dugaan yang sangat berpengaruh. Misal, bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam, dan sebagainya.
3.         Melakukan Analisis Kebutuhan
Menurut Abidin (2007: 62) Ada empat tahap dalam melakukan analisa kebutuhan yakni perencanaan, pengumpulan data, analisa data dan menyiapkan laporan akhir.
a.       Perencanaan : yang perlu dilakukan; membuat klasifikasi siswa, siapa yang akan terlibat dalam kegiatan dan cara pengumpulannya. (Morrison dalam Abidin  2007: 62)
b.      Pengumpulan data : perlu mempertimbangkan besar kecilnya sampel dalam penyebarannya (distribusi) (Morrison dalam Abidin 2007 : 62).
c.       Analisa data : setelah data terkumpul kemudian data dianalisis dengan pertimbangan : ekonomi, rangking, frequensi dan kebutuhan (Ibid dalam Abidn: 2007:62).
d.      Membuat laporan akhir : dalam sebuah laporan analisa kebutuhan mencakup empat bagian; analisa tujuan, analisa proses, analisa hasil dengan table dan penjelasan singkat, rekomendasi yang terkait dengan data. (Morrison dalam Abidin 2007: 62).
  E.     Analisis Karakteristik Siswa
Karakteristik siswa adalah ciri dari kualitas perseorangan siswa yang pada umumnya meliputi antara lain kemampuan akademik, usia dan tingkat kedewasaan, motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, keterampilan, psikomotorik, kemampuan bekerja sama, keterampilan sosial.Karakteristik awal siswa perlu dipahami oleh guru yaitu:
1.      latar belakang akademik siswa yang mencakup:
a.       Jumlah siswa. disini guru harus bisa mengetahui banyaknya jumlah siswa yang akan diajar.  Pemahaman guru terhadap jumlah siswa mempengaruhi persiapan guru menentukan, materi, stratergi, media, model sampai evaluasi pembelajaran yang  dilakukan oleh karena itu guru harus  berkoordinasi dengan bagain akademik.
b.      Latar belakang guru. Pemahaman guru terhadap kehidupan siswa dari segi aspek latar belakang keluarga, minta, hobi, tingkat ekonomi yang berpengaruh pada perencanaan pembelajaran. Untuk memperoleh data siswa melalui pengisian biodata oleh siswa.
c.       Indeks prestasi. Pemahaman guru terhadap prestasi yang dimiliki siswa, tingkat prestasi yang homogen pada kelas dan mempertimbangkan tingkat kelulusan dan kedalaman materi yang dikuasai oleh siswa. untuk dapat memperoleh data ini gurubisa mengetahuinya dari nilai rapor sebelumnya.
d.      Tingkat intelegensi. Pemahaman gruru dalam melihat tingkat kemampuan siswa dalam menerima materi pembelajaran, keluasan materi dan guru dalam menyusun program pembelajaran dengan tingkat kesulitantertentu. Tingkat intelegensi siswa dapat diperoleh melalui tes intelegensi atau tes potensi akademik (TPA)
e.       Keteramplan mmeaca. Menyangkut tentang kemampuan siswa dalam menyimpulkan secara cepat dan akurat tentang bahan bacaan yang siswa baca. Dapat diketahui melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam rentang waktu yang ditentukan.
f.       Nilai ujian. Untuk memperoleh nilai ujian siswa perlu dilakukan tes kemampuan awal siswa terhadap mata pelajaran yang diampu oleh guru yang bersangkutan.
g.      Kebiasaan belajar/gaya belajar. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai siswa. dalam proses pembelajaran, banyak siswa yang mengikuti belajar pada  mata pelajaran tertentu, diajar dengan menggunakan strategi yang sama akan tetapi mempunyai tingkat pemahaman  yang berbeda-beda karena siswa memiliki kecerdasan dan gaya belajar yang berbeda-beda.
h.      Minar belajar. Guru dapat memprediksi/ melihat tingkar antusias siswa terhadap pembelajaran yang disampaikan. Oleh sebab itu, guru perlu melakukan wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum seluruh penilaian yang mencerminkantentang minat siswa terhadap maka pelajaran yang akan disampaikan.
i.        Harapan/keinginan siswa. hal ini dapat dilakukan dengan meminta siswa untuk mengemukakakn pendapatnya tentang harapan mereka terhadap mata pelajaran yang akan diberikan, susasana yang diinginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata pelajaran yang disajikan.
j.        Lapangan kerja/cita-cita yang diinginkan. Hal ini dapat dilakukan dengan pengisisan angket. Sehingga berdasarkan informasi ini guru dapat memberikan bimbingan dan motovasi terhadap siswa dalam upaya pencapaian cita-cita yang siswa inginkan.
Faktor-faktor sosial yang meliputi hal-hal berikut ini :
a)        Usia
Faktor usia daapat dijadikan patokan dalam memahami karakteristik siswa. Memahami usia siswa akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap usia anak-anak tentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakan terdapat anak remaja atau dewasa.
b)        Kematangan
Kematangan juga dapat dijadikan sebagi patokan dalam memahami karakteristik siswa, dimana kematangan secara psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam menentukan berbagai macam pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkat usia/kesiapan siswa. Dari perkembangan jasmani dan rohani manusia yang terjadi pada setiap fase kehidupan manusia, mengarah kepada terjadinya proses kematangan. Kematangan itu mencakup :
1)      Kematanga prenatal yakni anak yang berusia 2,5-9 tahun akan mengalami kematangan fungsi syaraf serta refleksi untuk menggerakkan tubuh bayi.
2)      Perkembangan vital yakni lahir, menangis, dan tak berdaya, tetapi setelah mengalami fase tersebut ketiga aspek diatas dapat berfungsi dan menjadi matang.
3)      Kematangan ingatan yakni 2-3 tahun fungsi ingatan anak mulai berkembang, sehingga telah mampu menerima kesan dan ingatan serta menuju kesempurnaannya pada usia berikutnya.
4)      Kematangan imajinasi yakni pada usia 3-4 tahun anak sudah merasa bahwa dirinya merupakan kepentingan dari orang lain. Bahkan dia telah mulai menyadari bahwa ia dibatasi oleh orang lain
5)      Kematangan pengamatan yakni pada usia 4-6 tahun sudah berkembang fungsi pengamatan untuk mengenal lingkungan sekitar
6)      Kematangan intelektual yakni pada anak usia 6/7 tahun anak sudah mulai berpikir secara ligis, baik dan buruk.
7)      Kematangan pra remaja yakni anak sudah memasuki usia pubertas yang salah satu cirinya adalah anak mulai memperhatikan diri.
8)      Kematangan remaja yaitu akan sudah mulai merasakan kebutuhan untuk berteman, sahabat yang dapat membantu mereka dalam berbagai permasalahan.
b.        Rentangan perhatian (attention span)
Rentang perhatian siswa adalah jumlah waktu normal siswa dapat berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian pembelajaran. Menurut Mc. Keachie 1986 dalam Hisyam Zaini menjelaskan bahwa mahasiswa mampu mengingat 70%  informasi yang disampaikan  oleh dosen pada 10 menit pertama, tetapi pada 10 menit berikutnya hanya mampu mengingat 20%  dari materi yang disampaikan.
Dengan demikian dapat dipahami, bahwa memahami rentang perhatian siswa dalam belajar akan menentukan kualitas informasi yang diperoleh siswa dalam belajar.
a. Bakat-bakat istimewa
Sebagaimana dipahami bahwa setiap anak memiliki berbagai macam potensi yang berbeda satu sama lainnya. Untuk itu guru perlu memahami perbedaan bakat tersebut agar dapat dikembangkan secara optimal.
b.Hubungan dengan sesama siswa
Memahami hubungan antar siswa membantu guru dalam mengembangkan pendekatan-pendekatan belajar yang bertumpu kepada kerjasama siswa dalam belajar.
c. Keadaan social ekonomi
Pemahaman guru terhadap keadaan social ekonomi siswa juga dapat membantu guru dalam menentukan pendekatan dan sumber belajar. Secara kasat mata, dapat diperhatikan bahwa sebagian besar siswa mengalami kendala dalam memenuhi kebutuhan siswa, sebagai akibat dari rendahnya ekonomi keluarga. Berkenaan dengan itu, dibutuhkan kreativitas guru dalam membuat/ menentukan sumber belajar dan media yang terjangkau dan tersedia dilingkungan belajar siswa.
Dalam menganalisis karakteristik siswa  ada tiga langkah yang perlu dilakukan dalam menganalisis kemampuan awal siswa.
1.      Melakukan pengamatan kepada siswa secara perorangan. Pengamatan ini bisa dilakukan dengan menggunakan tes kemampuan awal atau angket dan wawancara. Tes (lisan  atau objektif) kemampuan awal digunakan untuk mengetahui konsep, konsep prosedur atau prinsip yang telah dikuasai oleh pebelajar yang terkait dengan konsep, prosedur, atau prinsip yang akan diajarkan. Wawancara atau angket dapat digunakan untuk menggali informasi mengenai kemampuan awal yang lain, seperti pengetahuan yang tidak terorganisasi, pengetahuan tentang analogi dan strategi kognitif.
2.      Tabulasi karakteristik perorangan siswa. hal pengemasan yang dilakukan pada langkah pertama ditabulasikan untuk mendapatkan klasifikasi dan rincianya. Hasil tabulasi akan digunakan untuk daftar klasifikasi menonjol yang perlu diperhatikan dalam penetapan strategi kognitif.
3.      Pembuatan daftar strategi karakteristik siswa. daftar ini perlu dibuat sebagai dasar menentukan strategi pengelolaan pembelajaran. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan daftar ini adalah daftar harus selalui disesuaikan dengan kemajuan-kemajuan belajar yang dicapai pelajar secara perorangan.
Ada beberapa macam instrument yang bisa digunakan untuk memperoleh data tentang karateristik pebelajar, meliputi: observasi, interview, kuesioner dan tes.


Komentar